Kronar berdiri, tubuhnya yang besar tampak semakin mengintimidasi di bawah cahaya redup api obor. “Hanya dia, ya, hanya dia yang bisa melakukan hal ini. Pasti dia yang menyebabkan kekacauan ini, Lynx,” katanya dengan marah.

Dendamnya belum hilang karena Lynx telah menghancurkan rencananya sebelumnya. Dia mengingat bagaimana para penduduk yang sudah ditangannya dan akan diserahkan ke suku Monrest, termasuk tokoh-tokoh penting suku Yaksa, menjadi gagal karena ulah Lynx yang membakar kampung dan menyelamatkan para tahanan. Akibatnya, dia terkena marah pimpinan wilayah suku Monrest.

“Y-ya, pimpinan. Dia punya kekuatan yang tidak wajar. Tidak mungkin kita—”

“Sssst,” Kronar mendekat, satu tangannya terangkat, jari telunjuknya menempel di bibir perampok itu. “Jangan katakan kita tidak mungkin menang. Aku tidak ingin mendengar itu lagi. Kita akan melawan dia dengan kepintaran kita. Aku tahu kelemahannya.”

Kronar berbalik, melangkah menuju peta besar yang tergantung di dinding. Ia menatap tanda-tanda di peta itu dengan serius. “Dia pasti sedang menuju sarang-sarang kecil kita yang lain. Kita tidak akan menunggu sampai dia menghancurkan semuanya.” Kronar memutar badannya kembali. “Berikan perintah, kumpulkan semua anak buah kita yang masih hidup. Perintahkan mereka kembali ke sini, dengan atau tanpa tawanan.”

“T-tapi, pimpinan, Lynx akan terus mengejar—”

“Bawa semua orang kembali,” Kronar menyeringai licik. “Kita akan tinggalkan pesan untuknya.”

Sementara itu, Lynx melanjutkan perjalanan menghancurkan sarang perampok yang tersebar di beberapa tempat.

Bruno berhenti berjalan di tepi hutan kecil. Ia menunjuk sebuah bangunan reyot yang terletak di tengah hutan terbuka. “Itu... itu tempatnya,” katanya dengan ragu. Sementara itu, Lynx, yang sudah menghancurkan delapan sarang musuh, mulai merasa aneh saat menemukan sarang musuh yang kesembilan. Lynx menggunakan penglihatan tembus pandangnya. Tidak ada penjaga, tidak ada suara. Tempat itu terlihat seperti sudah lama ditinggalkan. Namun, dia melihat seorang pria tua sedang terikat di sebuah pohon.

“Kau yakin ini tempatnya?” Lynx bertanya, nadanya tajam.

“Y-ya, aku yakin! Itu tempatnya!” jawab Bruno gugup.

Lynx menghela napas dalam. “Tunggu di sini.” Ia berjalan perlahan menuju sebuah bangunan seperti pondok kecil, seluruh indranya siaga. "Apakah ini jebakan? Apakah mereka sudah mengetahui perbuatanku? Kenapa ada orang tua terikat di tempat ini?" batinnya.

Ketika Lynx mendekat, aroma busuk menyengat hidungnya. Di sebuah pohon, seorang pria tua terikat di batang pohon, tubuhnya kurus kering dan wajahnya penuh luka.

“Siapa kau?” tanya Lynx, mendekati pria itu.

Pria itu membuka matanya perlahan. “Kau... Lynx?”

Lynx menegang. “Dari mana kau tahu namaku?”

Pria itu berusaha membuka suaranya, “Kronar... dia tahu kau akan datang. Dia menunggumu...” katanya dengan parau.

Lynx mengepalkan tangan. “Di mana dia sekarang?”

“Jurang dekat kampung perampok yang pernah kau bakar,” kata pria itu dengan suara hampir tak terdengar.

Lynx berdiri tegak, tubuhnya terasa panas oleh amarah. “Jadi benar, dia sudah menyadarinya. Ini pasti jebakan lainnya,” gumamnya. "Aku harus berhati-hati, dia selalu menggunakan penduduk untuk memaksaku menyerah."

Pria itu mengangguk lemah. “Aku... aku tidak tahu siapa kamu, tapi aku hanya berpesan untukmu. Jika kau tidak berhati-hati, dia akan menang.”

Lynx menatap pria itu dengan penuh tekad. “Dia tidak akan menang. Tidak kali ini.”

Lynx lalu melepaskan ikatan pria tua itu dan memberinya air minum. “Bisa ceritakan apa yang terjadi?” tanyanya, nada suaranya menunjukkan kepedulian.

Pria tua itu menatap Lynx dengan mata yang penuh harapan. “Beberapa hari yang lalu, saat aku bersama istri dan anakku mencari makanan dengan penduduk lainnya, mereka tiba-tiba datang dan menangkap kami."

Pria tua itu meminum air yang diberikan Lynx, lalu melanjutkan ceritanya. “Mereka berniat menangkap penduduk lainnya yang ada di seberang bukit itu,” katanya sambil menunjuk sebuah bukit di kejauhan. “Tetapi tiba-tiba mereka kedatangan salah satu anggota mereka yang sepertinya tokoh penting.”

“Apa yang mereka bicarakan? Apakah kamu mengetahuinya?” tanya Lynx, wajahnya penuh perhatian.

Pria tua itu menganggukkan kepalanya. “Mereka membahas tentang pimpinan mereka. Kronar meminta mereka segera kembali ke kampung mereka, dan apakah mereka memiliki tawanan atau tidak, tetap harus kembali.”

Pria tua itu memandang Lynx dengan tatapan penuh kesedihan. "Kumohon, selamatkan istri dan anakku. Mereka membawanya dan meninggalkan aku di sini untuk menyampaikan pesan kepadamu. Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi mereka sepertinya sangat takut kepadamu," ucapnya dengan suara bergetar, mengisyaratkan betapa besar kepanikan yang menggerogoti hatinya. Lynx dapat merasakan beban emosional yang mendalam dalam kata-kata pria itu.

"Kepala suku, kurasa ini jebakan yang mereka siapkan untukmu," kata Bruno dari belakang Lynx. Dari kejauhan, ia melihat keanehan di tempat itu, sehingga ia datang menyusul.

Lynx menatap Bruno, berusaha menyelidiki maksudnya. "Kenapa dia memperingatkanku? Aku akan membunuhnya jika dia berani membuatku kesal," batin Lynx, kemarahan menggelora dalam dirinya akibat tindakan para perampok yang selalu menangkap penduduk.

"Aku tidak bermaksud buruk, aku hanya ingin mengingatkan," kata Bruno, suaranya terdengar tenang meski ada ketegangan di udara.

"Apa yang sudah kulakukan? Ini bukan urusanku," batin Bruno, merasa cemas. "Tapi aku tidak ingin menjadi musuhnya. Kekuatannya terlalu mengerikan."

***

Sementara itu, di barat pulau, seorang pria tua terlihat memakan daging kelinci di atas sebuah pohon. Jika diperhatikan, darah segar mengalir dari sela-sela bibirnya, menetes dari daging kelinci yang dimakannya.

Pria itu adalah Gahara, tetua suku Yaksa yang berkhianat dan bekerja sama dengan Kronar demi menguasai suku Yaksa.

Di kampung perampok, berkat rencananya, Uban dan beberapa ketua seperti Ayunga berhasil ditangkap. Namun, semua rencananya berantakan karena seorang pengacau yang muncul tiba-tiba.

"Lynx, aku akan membunuhmu," katanya sambil menggigit daging kelinci yang masih hidup, matanya berkilau dengan kebencian.

Sejak ditangkap oleh suku Yaksa dan dijatuhi hukuman mati karena berkhianat, istri dan anaknya yang tidak sanggup menanggung malu memutuskan untuk bunuh diri dengan meminum racun.

Gahara, dalam keadaan kalut dan marah, menemukan kesempatan untuk melarikan diri saat suku Yaksa memutuskan pindah ke barat pulau, bergabung dengan suku lainnya.

Ayunga, yang menyimpan dendam terhadap Gahara karena tindakan yang mencelakai Jelita, putrinya, ingin mengejar. Namun, Uban melarangnya, khawatir Kronar bersama suku Monrest akan datang menyerang.

Tanpa mereka ketahui, Gahara secara diam-diam mengikuti mereka hingga ke tempat ini.

Dengan gigih, demi membalas dendam, Gahara berusaha bertahan hidup dengan memakan binatang apa pun yang ditemuinya, bahkan memakannya hidup-hidup agar tidak menimbulkan kecurigaan jika menghidupkan api.

Ketika melihat seorang pemuda berjalan sendirian dari arah Kampung Surya, Gahara diam-diam memperhatikan gerak-gerik pemuda tersebut.

"Aku yakin, dia pemuda yang beberapa waktu lalu menculik seorang wanita dan menguburnya di gua," batin Gahara, rasa curiga mencuat dalam pikirannya.

Beberapa hari sebelumnya, di pagi buta, saat ia sedang beristirahat di atas pohon, Gahara menyaksikan kejadian aneh. Seorang pria menggendong wanita yang terikat, lalu membawanya ke sebuah gua.

Gahara hanya memperhatikan tanpa niat ikut campur, karena tujuannya adalah mencari kesempatan untuk membunuh Lynx dan Ayunga, musuh bebuyutannya.

Setelah pria itu pergi, Gahara memasuki gua untuk memeriksa keadaan di dalamnya. Ia menemukan seorang wanita dalam keadaan pingsan, terikat. "Pemuda kurang ajar, demi gadis cantik berani menculik," ujarnya sambil tertawa terkekeh, merasakan kepuasan dalam situasi itu.

Namun, Gahara kemudian kembali ke tempat persembunyiannya karena tidak ingin terlibat lebih jauh. Sore harinya, ia merasa heran ketika melihat pria itu tergesa-gesa masuk dan meruntuhkan gua tersebut.

Tidak lama kemudian, ia melihat Lynx, musuh bebuyutannya datang dan teriak-teriak memanggil seseorang. "Sepertinya wanita itu seseorang yang sangat berharga baginya," batin Gahara, senyum jahat tergambar di wajahnya saat ia merencanakan langkah selanjutnya.

Gahara diam-diam mendekati pemuda tersebut, langkahnya ringan dan tanpa suara, seolah bayangan yang menyusup di antara pepohonan. Dia ingin memastikan bahwa pemuda itu tidak menyadari kehadirannya, karena rencananya harus dilakukan secara cermat.

Dengan hati-hati, ia mengintip dari balik semak-semak, mengamati pemuda itu yang kini berhenti dan menatap ke arah gua yang telah runtuh. "Apa yang kau cari, pemuda?" gumam Gahara dalam hati, merasakan peluang untuk memanfaatkan situasi ini.

